Home / Catatan Siswa / Cerpen “Azaria Amam”

Cerpen “Azaria Amam”

Cerita memang membuat semua orang terlelap dalam lamunan mimpi, tapi tidak untuk yang satu ini. Seorang pria berwajah tampan lagi cerdas ini mengalami phobia yang paling aneh yakni dongeng sebelum tidur. Dia sangat menggemari keindahan hingga ia hanyut dalam seni lukis.seperti pria dewasa lainnya ia memendam cinta pada seorang ustdzah yang bergelar sarjana pesikologis.

Suatu ketika Amam harus pergi menemui sang klien biasanya dia menyuruh karyawannya. Dia pergi karna ada hal penting lagi yang harus  dilakukan. Dan hal penting yang menjadi alasan nya adalah refresing.

Azaria Amam

cerita pendek, cerpen pendidikan, cerpen cinta, cerpen lucu, cerpen kehidupan, cerita lucu

“Pagi ummi! Amam berangkat dulu, ya!”

“Hati-hati! Jangan lupa jemput Rumi”. Katanya ummi yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Umminya Amam punya pekerjaan sampingan yaitu jualan beberapa camilan tradisional, termasuk usus krispy delaga bercandanganberbagai macam rasa. Dan Amam sangat menyukai usus krispy yang rasa original.

“Siap bos ummi!” Amam mengangkat tangan memberi hormat dengan laga bercanda. “Tapi, nanti Amam pulang malam, gak papa kan!”.Amam merayu ummi nya.

“Iya. Tapi jangan terlalu malam! Kasian adeknya.”

“Oke. Amam pamit dulu. Assalamualaikum.”Amam bersalaman sambil mengambil beberapa bungkus usus krispy kesukaannya.

Ummi menggelengkan kepala pada sikap Amam barusan.”Amaaaammm…”Desah ummi.

Amam melajukan motor ninjanya menembus suasana lalu lintas yang tidak begitu padat. Beberapa menit kemudian Amam menghentikan laju motornya karna ada mobil yang ugal ugalan di jalan. Amamterus melaju dengan pelan, tapi hatinya penuh dengan keraguan akan terjadi kecelakaan maut.

Bruuukk…

Amam langsung menginjak pedal rem dan memarkirkan motornya. Kecelakaan itu tidak dapat dihindarkan lagi, tapi untunglah banyak yang membantu. Dan ambulan pun di datangkan dari rumah sakit terdekat untuk meng-efisienkan waktu.

“Aduhhh…!?”seorang perawat mengaduh karna mobil ambulan yang di bawanya tak mungkin mampu memuat seluruh korban.

“kenapa Rul?”

“kayaknya mobil ambulannya gak mampu ,deh!”desahnya.

“Kok bisa gitu?”

“Ya udah, bawa aja dulu nanti aku bantu cari bantuan, ya!”Amam menepuk bahu Arul memberi semangat. “Awaaasss…”sepontan Amam menarik arul dari tempatnya.

Bruuukkk…..

Dan kecelakaan beruntun pun tak bisa di hindarkan lagi, tapi untunglah Arul dan Amam selamat dari tragedi tersebut. Lalu Amam mendengar suara samar dari tempat yang tak darinya. Amam pun bangkit dan memcari asal muasal suara tersebut.

“Astaghfirullah..”Amam menmukan korban seorang wanita dan bayi yang tertidur pulas. “Mari saya bantu!” Amam mengulurkan tangannya.

“Bayi ini lebih penting dariku” perempuan itu memberikan bayi itu pada Amam.

“baiklah! Kau , bertahanlah! bantuan akan datang!” Amam menerima bayi itu dan segera pergi.

Amam meletakkan bayi itu di samping Arul di dalam ambulan. Ia bergegas menemui wanita yang menjadi korban tadi. Tapi terlambat sudah wanita itu sudah tak sadarkan diri entah pingsan atau meregang nyawa. Amam langsung membawanya ke tempat arul dan anak kecil tadi.

“Siapa itu mam?” Arul menyambut kedatangan amam.

Amam meletakkan di samping tubuh anak mungil itu. “entahlah, ku merasa sangat iba pada mereka”. Amam berusaha mengelap wajahnya dengan tisu yang penuh dengan berak darah

Niu…. Niu… Niu……

Ambulance bantuan datang, dan berhenti tepat di depan mereka. Beberapa pemuda turun dengan seragam putih khas perawat. Dengan sigap mereka mengangkat korban dan membawanya ke Rumah Sakit.

“Rul” seorang pemuda menghampiri arul dan amam yang membersihkan wajah dan tangannya dengan air.

Baca Juga  Kumpulan Puisi Edisi Januari 2020

“Hm….”Arul terus menyiram wajahnya.”

“Aku akan kembali dengan ambulanmu. Aku masih ada urusan penting!”Setyo teman seanggota di pekerjaannya.

“Ya..”Jawab arul tanpa menoleh sedikit pun.

“Nanti kamu pulangnya gimana?”

“Tetang saja! Nanti aku pulang dengan Amam.”

Setyo menepuk bahu Arul dan Amam untuk mengisyaratkan aku pergi dulu. Ia pun melaju membawa mobil ambulannya, ia  harus datang tepat waktu karna banyak korban yang harus di rawat.

Amam menoleh pada seorang pria yang sedang menggigil ketakutan karna mengidap phobia darah. Saat acara pernikahannya dengan Rumi 2 tahun yang lalu. Dimana, saat selesai acara mereka masuk ke kamar pengantin.

“Aku ganti baju dulu.”Rmi mengambil piyama miliknya.

Amam hanya mengangguk, tangan nya menggenggam, fikirannya melayang pada hal buruk yang akan terjadi, dingin hanya yang di rasakannya.

Taklama Rumi keluar dari kamar mandi dengan pakaian pengantin yang menggantung di tangannya, rambut indahnya menjuntai indah dan senyumnya merekah menambah indahnya suasana hati sang pengantin baru. Ia tekejut melihat Amam yang sikapnya hampir sama dengan anak kecil, ngumpet di dalam selimut. Melihat itu, Rumi tersenyum merasa bahwa suaminya itu sedang bercanda dengannya. Rumi duduk di kasurnya dekat Amam.

“Pergi ……!!!!”Amam menghempas selimutnya.”Jangan dekati aku… pergiiii…!!!”spontan Amam loncat dari kasurnya dan lari terbirit-birit.

Keadaan pun semakin kacau saat Amam masuk ke dapur dan menangis pada sang ummi. Rumi datang menghampirinya, matanya berkaca-kaca bertanya ada apa dengannya ummi?kenapa Amam jadi begini? Tapi ia tak bisa mengutarakannya. Airmatanya jatuh membasahi jilbabnya semua orang yang ada saat itu memandang kasihan padanya.

“Kenapa nak, dia telah sah jadi istrimu?”ummi memberi pengertian padaa Amam yang tidak melepaskan pelukannya.

“Bukan,ummi! Dia yang pembunuh……”Amam menunjuk Rumi tanpa melihatnya.

Rumi semakin sesak dadanya mendengar ucapan sang suami. Padahal ia sudah tau kalau Amam mengidap phobia yang aneh. Tapi bagi Rumi itu adalah hal yang paling menyakitkan. Ia tak kuat menahan sesak hingga ia jatuh pingsan, dan sakit selama berhari-hari.

Sedangkan Amam tidak bisa di temui oleh siapa pun kecuali ummi, ayah,dan abahnya. Dia mengurung diri di kamarnya tak keluar sampai 3 hari. Banyangan itu selalu datang saat dia melihat seseorang yang mengalami phobia apapun itu macamnya.

“Kok ngelamun, Mam?”Arul menepuk bahu Amam , membuatnya sadar dari lamunannya.

“Aku ingat Rumi saat ia pertama kali datang ke rumahku. Aku merasa bersalah padanya.”Amam mengacak-acak rambutnya menyesal.

“Emmm… gimana kalo kamu ikut aku berobat ke tempatnya temanku dia bisa menyembuhkan phobia?”

“Boleh saja.”Amam berfikir lagi teringat ayah dan abahnya yang sedang ke luar kota untuk mengerjakan proyek barunya. “Kapan-kapan saja, Rul! Aku masih punya tugas penting.”Kata Amam saat menbonceng Arul kembali kerumah sakit.

“Terserah kamu. Kapanpun kau butuh, aku siap!”Arul pun mendukung kesenbuhan phobia Amam.

Kriiinnggg…..

Hp Amam berbunyi. “Halo! Ini dengan Amam! Ada yang bisa saya bantu?”Amam meninggalkan mereka.

“Hi. Amam saya klien yang ingin bertemu dengan anda hari ini.!”

“Oh, ada apa ya, pak?”

“kita ketemunya nanti malam jam 7. Soalnya saya masih ada rapat dadakan!”

“Baiklah. Saya akan temui anda nanti malam di tempat yang telah anda tentukan kemarin?”

“Iya. Sampai jumpa nanti malam!”

Amam menutup telfonnya. Saat ini fikirannya hanya tertuju pada Rumi yang masih ada di pesantren. Ia langsung melaju ke pesantren yang di tempati oleh Rumi. Sesampainya di sana Amam melaporkan penjemputan adiknya ke pengurus yang sedang berjaga. Lalu ia duduk di kursi yang telah di sediakan untuk para tamu yang berkunjung.

Baca Juga  Fenomena dunia pendidikan Indonesia di masa COVID-19

“Kak Amam!”Suara itu milik perem puan cantik dengan hiasan jilbab yang menjuntai menutupi rambut indahnya.

“Gimana, katanya mau pulang?”Tanya Amam saat rumi menyalami tangannya.

“Iya rumi sudah siap, tinggal mengangkut barang-barang rumi.”

“Kalau begitu kak tunggu di motor ya!”Amam pun pergi berlawanan dengan rumi. Ia bersandar kemotornya dan tangannya sibuk memainkan hpnya  Rumi meng hampirinya dengan beberapa barang bawaannya.

“Ayo kak, rumi sudah siap!”

Mereka melintasi jalanan yang sudah mulai memadat karna hari sudah mulai sore. Mereka pergi jalan-jalan ke alun-alun kota menghabiskan waktu sore berduaan. Waktu hampir magrib mereka pergi ke masjid untuk sholat magrib berjamaah. Saat pulang kerumah Amam teringat pesan ummi bahwa mertuanya tidak bisa pulang malam ini karena ada masalah di jalan.

“Dek, kamu mau pulag kemana?”tanya Amam.”kata ummi bunda dan ramah tidak bisa pulang malam ini jadi, rumah mu kosong untuk malam ini.”

“Kalo Rumi pulang kerumahnya ummi kamu keberatan gak?!”

“Gak kok, malah ummi senang! Kan sekarang ayah dan abah lagi keluar kota karena ada proyek baru di sana.”

Tanpa berkata hanya seenyum yang ia tampakkan, gak pa pa kok, kalau Cuma ummi yang senang, yang penting aku puas melampiaskan rinduku padamu, gumam Rumi dalam hati.

Sekilas Amam melirik wajah Rumi yang ter senyum bahagia, apalagi pelukan rumi yang begitu ia rasakan. Terpintas difikiran Amam.mau sampain kapan hubungan mereka berjarak seperti ini.sampai kapan Rumi akan bersabar kesembuhan phobia Anam yang membuat mereka harus ber pisah layaknya tampa hubungan.Amam terus teringat hal itu hingga tiba didepan lestoran tempat janjiannya dengan klaien.Amam sengaja mengajak Rumi kesana karena iya sadar bahwa Rumi belum makan sejak sore tadi.

“kita makan di sini dulu! Sekalian aku ketemu dengan klien di sini.”

Tak lama kemudian, klien itu datang dan mereka mulai presen tasinya. Sekitar 15 menit berlalu, Rumi telah menyelesaikan makannya. Untuk meng hilangkan rasa bosannya ia memain kan hp milik Amam. Tak lama setelah itu mereka telah selesai dengan presentasinya dan memutuskan untuk pulang karena waktu sudah mulai malam.

Selama perjalanan Amam selalu mengajak Rumi bicara agar tidak ter tidur di atas motor. Karena tadi saat ia mengajak Rumi pulang matanya terlihat sayu dan kelelahan mungkin karena aktifitasnya tadi melelahkan. Jadi Amam berusa untuk membuat Rumi tidak tidur di perjalanan. Sesampainya dirumah ternyata ummi dan bi’Ari tidak tidur karena menunggu kedatangan mereka.

Setelah bersalamnan mereka langsung pergi ke kamar Amam. Amam meninggalkan Rumi yang akan ber kemas sedang kan iya pergi ke kamar mandi untuk mandi dan ganti pakaian setelah itu ia keluar di samping lemari sudah terlihat kasur kecil ter hampar untuk tempat tidurnya Rumi. Hal yang biasa dilakukan oleh rumi saat menginap dirumah Amam.

“kita solat isya’ berjamaah, ya!”

Rumi menganggukkan kepala seraya pergi dengan baju ganti menuju ke kamar mandi. “aku ganti baju dulu, ya!”

Baca Juga  Cerita Humor "Pencuri Mangga"

Amam pergi mengambil baju sholat dan mukenah untuk Rumi ke moshollah. Saat kembali ke kamarnya Rumi sudah ganti baju dan menunggu Amam yang sedang mengambil mukenah untuknya. Dan mereka langsung solat berjamaah bersama.

Seperti yang di putuskan oleh Amam untuk menyembuhkan phobianya ke tempat temannya Arul. Mereka berencana akan pergi 3 hari setelah ayah dan abah pulang dari proyek. Tapi tempat itu jauh dari rumah Amam yaitu harus pergi ke luar kota dan tempatnya sangat terpencil. Mereka menginap di rumahnya Dika orang bisa menyembuhkan phobianya.

Selama 2 bulan mereka sudah pergi dari Surabaya. Mereka akan pulang dengan membawa kabar gembira karna mereka sudah bisa menyembuhkan phobia milik Amam. Kepulangannya telah di rencanakan dan hal-hal yang akan di lakukan oleh Amam saat kembali ke rumah. Rasa tidak sabar Amam untuk bertemu dengan sang kekasih dan menyatukan kembali hubungan mereka yang sempat terganggu oleh phobianya.

Hari yang di tunggu telah tiba.Amam menghias kamarnya seindah mungkin dan juga ia mempersiapkan penampilan terbaiknya  untuk menyambut Rumi sang istri tercintanya yang sabar menunggu akan hari ini. Ummi dan abah sangat bahagia dengan kabar itu, mereka juga sibuk menyiapkan makanan untuk menyambut menantu kesayangannya yang akan hadir menjadi pelengkap keluarganya.

“Abah, ummi, Amam berangkat! Assalamualaikum!”Amam pamit dan menyalami tangan ke2nya.

“Waalaikumussalam, semoga Allah memberkahimu!”

Amam menyusuri jalan yang kini bersahabat dengannyadan suasana sejuk pagi membuatnya tetap segar dan lebh bercahaya. Sampai di pesntren Amam langsung menemui sang kiai. Ia menjelaskan maksud kedatangannya ke sana. Seorang khadim mendengarkan maksud kedatangan Amam menghadap ke kiai membuatnya menemui Rumi. Ia mengabarkan kehadiran Amam di rumah kiai tapi untunglah ia tidak mengetahui maksudnya dengan jelas.

Saat mereka bertemu sikap Amam begitu dingin dan keadaannya sangat berbeda dari biasanya. Hal ini membuatnya terkejut dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Selama perjalanan pulang ia hanya bungkam dan tak ada kata-kata yang keluar dari Amam. Mereka terus bungkam sampai ke rumah Amam. Ia lebih terkejut lagi saat semua orang ada di rumah Amam.

Acara selamatan plus penyambutan kehadiran sosok yang di tunggu-tunggu yaitu Rumi. Acara berlangsung meriah dan tidak ada penghalang dalam pelaksanaan acara tersebut. Berlangsungnya acara tersebut hingga malam hari, penutupan acara adalah makan malam bersama. Setelah mengantarkan bunda dan ramah, Amam menemui Rumi di kamarnya.

“Sayang…kamu ngapain?” saat Amam datang kekamarnya.

“Seperti biasa. Aku akan tidur di sini agar tidak ada yang terganggu!” padahal dihatinya Rumi tersiksa, bagaimana bisa hubungan sah itu hadir tanpa keromantisan seperti hubungan rumah tangga pada umumnya.

“Sayang…dengerin aku, ya? Mulai hari ini kita akan tidur di sana!”Amam menunjuk kasurnya.”dan mulai malam ini kita akan tidur bersama.”

“Bukannya hasilnya kemarin kamu gagal?!”

“iya , memang hasilnya gagal tapi, ada yang sengaja aku rahasiakan darimu. Dan itu adalah kekalahan si phobia dari kesabaran dan cinta sucimu!”

“Benarkah!!!”Rumi lompat-lompat kegirangan.

Mulai hari itu tak ada lagi kata yang bisa memisahkan mereka karna kesabaran dan cinta suci mereka tak bisa di tembus oleh cobaan apapun. Karna kesabaran adalah kunci dari kesuksesan sebuah usaha dan cinta suci adalah penyatu sebuah hubungan dengan ucapan yang sakral.

By:Fadhlul Kabir

XII-B

About Osis Osis

Check Also

cerita humor, pencuri mangga, ma insan generasi islami, ma igi

Cerita Humor “Pencuri Mangga”

Cerita Humor “Pencuri Mangga” Pada suatu pagi, disaat bu jamih pergi untuk melihat kebun mangga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *